peoposal pts 2019
http://qwww.proposal.pts.2019.
PROPOSAL PTS 2019
- Latar Belakang
Hasil belajar siswa akan meningkat jika kompetensi pedagogik dan profesional guru meningkat. Selain itu, proses pembelajaran harus melibatkan komponen: tujuan, media, bahan, dan metode pembelajaran, serta alat penilaian (Arikunto, 2003; Udin, 1992; dan Winkell, 1993). Jika tiga komponen tidak ada maka proses pembelajaran kurang berhasil (Udin, 1992 dan Sudjana, 2001). Namun fakta dilapangan sebagian guru selalu menggunakan metode pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya data, masih banyak guru yang belum memamfaatkan aplikasi teknologi untuk memperkaya serta membuat pembelajaran menjadi lebih menarik minat belajar siswa (Newman et all, 1998; Hobbs, 1998; dan Harris et all, 1995;
Pada saat ini aplikasi teknologi berkembang sangat pesat. Aplikasi tersebut akan dengan mudahnya diperoleh dari media internet termasuk informasi media pembelajaran, materi, model, dan metode pembelajaran. Jadi bisa dibanyangkan jika guru tidak menguasai aplikasi teknologi maka guru tersebut, akan mengalami kesulitan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran (Barbara et all, 2008; Elain, 2000; Marfuah, 2011; & Retno, 2003). Untuk mencapai proses pembelajaran yang berkualitas, maka guru harus bertanggung jawab dan berinitiatif untuk mengenali kebutuhan belajar siswa, menemukan sumber-sumber informasi untuk dapat menjawab kebutuhannya, membangun serta mempresentasikan pengetahuannya berdasarkan kebutuhan serta sumber-sumber yang ditemukannya. Dengan anggapan bahwa tiap peserta didik adalah individu yang unik, proses, materi dan metode belajar disesuaikan secara fleksibel dengan minat, bakat, kecepatan, gaya serta strategi belajar dari tiap peserta didik. Tersedianya pilihan-pilihan bebas ini bertujuan untuk menggali motivasi intrinsik dari dalam dirinya sendiri untuk belajar sesuai dengan kebutuhannya secara individu, bukan kebutuhan yang diseragamkan (Barbara, et al, 2008; Marfuah; 1989 & Retno, 2003).
Pelaksaan pembinaan tersebut akan optimal jika guru telah menguasai terlebih dahulu aplikasi teknologi dengan menggunakan internet. Kajian penggunaan aplikasi teknologi dalam pembelajaran terbukti meningkatkan hasil pembelajaran. Beberapa penelitian yang menunjukkan hal tersebut diantaranya: (1) Hernani & Ahmad (2010) menyimpulkan bahwa keterampilan proses siswa SMP kelas VII meningkat setelah menggunakan pembelajaran berbasis literasi teknologi; (2) Bella ( (2018) menyimpulkan bahwa penerapan literasi digital dan teknologi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pembelajaran siswa SMP Negeri 6 Banda Aceh, dan (3) Husain (2004) menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi informasi dan teknologi sebagai media pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa SMA, dan (4) Djuniar dkk (2015) menyimpulkan terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang belajar menggunakan pembelajaran berbasis literasi dibanding dan yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional.
Tiga upaya untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan guru, diantaranya dengan meningkatkan kemampuan guru tersebut dalam membuat media pembelajaran berbasis aplikasi teknologi, khususnya aplikasi inshot.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya pembinaan yang dilakukan oleh pengawas sekolah dengan menerapkan metode atau model supervisi yang bermutu (Dirjen PMPTK, 2008 dan Sujana dkk, 2011). Hal inilah yang mendorong peneliti telah melaksanakan penelitian tindakan sekolah dengan menerapkan supervisi multi metode untuk meningkatkan kemampuan guru di tiga sekolah binaan yaitu SMK PGRI 35 Solokanjeruk Kabupaten Bandung, SMK Aloer Wargakusumah Majalaya Kabupaten Bandung dan SMK Bina Insani Ibun Kabupaten Bandung, dalam membuat media pembelajaran berbentuk video pembelajaran melalui aplikasi teknologi inshot
- Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah penerapan supervisi multi metode dapat meningkatkan kemampuan guru di tiga sekolah binaan dalam membuat media pembelajaran berbentuk video pembelajaran melalui aplikasi teknologi inshot ?
- Tujuan Penelitian
Yang menjadi tujuan dalam penelitian ini menerapkan supervisi multi metode untuk meningkatkan kemampuan guru di tiga sekolah binaan dalam membuat media pembelajaran berbentuk video pembelajaran melalui aplikasi teknologi inshot.
- Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
1) Bagi guru dapat membantu mengembangkan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran berbentuk video pembelajaran melalui aplikasi teknologi inshot yang menarik minat belajar siswa
2) Bagi sekolah berfungsi sebagai masukan untuk meningkatkan kemampuan guru, dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar berbasis aplikasi aplikasi teknologi, yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
- Kajian Teori
- Supervisi
- Pengertian Supervisi
Supervisi diadopsi dari bahasa Inggris “supervision” yang berarti pengawasan atau kepengawasan. Secara morfologis supervisi berasal dari kata super yang berarti atas, lebih dan visi, berarti penglihatan, atau pandangan. Seorang supervisor memiliki kelebihan dalam banyak hal, seperti penglihatan, pandangan, pendidikan, pengalaman, kedudukan dan sebagainya (Sujana dkk, 2011).
Supervisi adalah suatu usaha menstimulasi, mengkoordinasi dan membimbing secara kontinyu pertumbuhan guru-guru sekolah, baik secara individual maupun secara kelompok, agar lebih mengerti, dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran, sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern (Sujana dkk, 2011).
- Macam – Macam Supervisi
- Supervisi Akademik
Supervisi akademik bertujuan untuk membantu dalam guru meningkatkan kualitas pembelajaran siswa, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan belajar siswa. Terdapat beberapa metode dan teknik supervisi akademik yang dapat dilakukan pengawas sekolah. diantaranya:
1) Observasi Kelas
Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar (Dirjen PMPTK, 2008).
2) Menilai Diri Sendiri
Penilaian diri sendiri merupakan satu teknik pengembangan profesional guru. Penilaian diri sendiri memberikan informasi secara obyektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metoda pengajarannya dalam mempengaruhi murid (Dirjen PMPTK, 2008).
3) Portofolio Supervision
Supervisor melakukan supervisi terhadap portofolio guru, mulai dari Silabus, RPP, Rekaman pelaksanaan pembelajaran, evaluasi (bentuk tes/soal, pelaksanaan, hasil evaluasi) Pengayaan dan/atau remedi, dan catatan lain yang dimiliki guru berkenaan dengan pembelajaran (Dirjen PMPTK, 2008).
- Supervisi Manajerial
Supervisi manajerial merupakan pembinaan terhadap pengelolaan dan administrasi sekolah. Meliputi: manajemen kurikulum dan pembelajaran, kesiswaan, sarana dan prasarana, ketenagaan, keuangan, hubungan sekolah dengan masyarakat, dan layanan khusus. Metode dalam supervisi manajerial antara lain:
a. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan penyelenggaraan sekolah, apakah sudah sesuai dengan rencana, program, dan/atau standar yang telah ditetapkan, serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi dalam pelaksanaan program (Dirjen PMPTK, 2008).
b. Refleksi dan Focused Group Discussion (FGD)
FGD adalah diskusi kelompok terfokus yang melibatkan unsur-unsur stakeholder sekolah, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, komite sekolah dan guru. ini dapat dilakukan dalam beberapa kegiatan sesuai kebutuhan (Dirjen PMPTK, 2008).
c. In House Training (IHT)
IHT merupakan tiga metode yang dapat ditempuh pengawas sekolah dalam melakukan supervisi manajerial. Metode ini tentunya bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan/atau perwakilan komite sekolah, atau masyarakat lainnya, dunia usaha, dunia industri atau lembaga lainnya (Dirjen PMPTK, 2008).
- Literasi Teknologi (Media Pembelajaran)
Literasi media adalah kemampuan yang efektif dan efisien untuk memahami dan pemanfaatan konten media massa atau the ability to effectively and efficiently comprehend and utilize mass media content (Harris & Hodges (1995).
Hobbs (1998) dan Elain (2000) mengungkapkan bahwa tujuan dari media Literasi, antara lain: (1) Penguatan akses terhadap informasi; (2) Mendukung dan menumbuhkembangkan lingkungan pendidikan; (3) Menginspirasikan untuk mengembangkan akses terhadap berbagai sumber informasi.
Hobbs (1998) mengemukakan beberapa elemen dari media literasi, di antaranya, adalah: (1) An awereness of the impact of media (kesadaran atas dampak media pada individu); (2) An understanding of the process of mass communication (pemahaman pada proses komunikasi massa); (3) Strategies of analyzing and discussing media massages (pengembangan strategi yang digunakan untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan-pesan media); (4) An understanding of media content as a text that provides insight into our culture and our lives (pemahaman pada konten media sebagai sebuah teks yang memberi wawasan pada kultur dan kehidupan manusia); (5) The ability to enjoy, understand, and appreciate media content (kemampuan untuk menikmati, memahami dan mengapresiasi konten media); (6) An understanding of the ethical and moral obligations of media practitioners (memahami tuntutan etika dan moral dari. para praktisi media); (7) Development of appropriate and effective production skills (mengembangkan kemampuan-kemampuan produksi secara memadai dan efektif).
Tiga model untuk mengukur tingkat literasi TIK di masyarakat biasanya digunakan Personal Capability Matuarity Model (P-CMM). Dalam hal ini literasi TIK dikategorikan atas lima tingkatan, yaitu: Tingkat nol = jika seorang individu sama sekali tidak tahu dan tidak peduli akan pentingnya informasi dan teknologi untuk kehidupan sehari-hari. Tingkat satu = jika seorang individu pernah memiliki pengalaman satu dua kali, di mana informasi merupakan sebuah komponen penting untuk pencapaian keinginan dan pemecahan masalah, dan telah melibatkan teknologi informasi untuk mencarinya. Tingkat dua = jika seorang individu telah berkali-kali menggunakan teknologi untuk membantu aktivitas sehari-hari dan telah memiliki pola keberulangan dalam penggunaannya. Tingkat tiga = jika seorang individu telah memiliki standar penguasaan dan pemahaman terhadap informasi maupun teknologi yang diberlakukannya dan secara konsisten memergunakan standar tersebut sebagai acuan penyelenggaraan aktivitas sehari-hari. Tingkat empat = jika seorang individu telah sanggup meningkatkan secara signifikan (dapat dinyatakan kuantitatif) kinerja aktivitas kehidupan sehari-harinya melalui pemanfaatan informasi dan teknologi. Tingkat lima = jika seorang individu telah menganggap informasi dan teknologi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari dan secara langsung maupun tidak langsung telah mewarnai perilaku dan budaya hidupnya (Newman & Roskes, 1998).
Untuk memahami literasi masyarakat terhadap TIK harus diketahui dulu berbagai elemen dari pengetahuan, pengalaman literasi, serta kemampuan lainnya yang harus dimiliki masyarakat. Untuk mengukur tingkat literasi masyarakat terhadap teknologi informasi dan komunikasi, tentunya dapat dilakukan dari tingkat pengenalan, penggunaan, dan tujuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) beserta berbagai elemennya
- Kajian Hasil Penelitian Efektivitas Peranan Aplikasi Teknologi (Media Pembelajaran)
Untuk mendorong peserta didik sebagai peserta aktif yang aktif belajar dan mandiri dalam proses belajarnya, maka guru harus bertanggung jawab dan berinitiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya, menemukan sumber-sumber informasi untuk dapat menjawab kebutuhannya, membangun serta mempresentasikan pengetahuannya berdasarkan kebutuhan serta sumber-sumber yang ditemukannya. Dengan anggapan bahwa tiap peserta didik adalah individu yang unik, proses, materi dan metode belajar disesuaikan secara fleksibel dengan minat, bakat, kecepatan, gaya serta strategi belajar dari tiap peserta didik. Tersedianya pilihan-pilihan bebas ini bertujuan untuk menggali motivasi intrinsik dari dalam dirinya sendiri untuk belajar sesuai dengan kebutuhannya secara individu, bukan kebutuhan yang diseragamkan (Barbara, et al, 2008; Marfuah; 1989 & Retno, 2003).
Pelaksaan pembinaan tersebut akan optimal jika guru telah menguasai terlebih dahulu aplikasi teknologi dengan menggunakan internet. Kajian penggunaan aplikasi teknologi dalam pembelajaran terbukti meningkatkan hasil pembelajaran. Beberapa penelitian yang menunjukkan hal tersebut diantaranya: (1) Hernani & Ahmad (2010) menyimpulkan bahwa keterampilan proses siswa SMP kelas VII meningkat setelah menggunakan pembelajaran berbasis literasi teknologi; (2) Bella ( (2018) menyimpulkan bahwa penerapan literasi digital dan teknologi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pembelajaran siswa SMP Negeri 6 Banda Aceh, dan (3) Husain (2004) menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi informasi dan teknologi sebagai media pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa SMA, dan (4) Djuniar dkk (2015) menyimpulkan terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang belajar menggunakan pembelajaran berbasis literasi dibanding dan yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional.
- Kerangka Penelitian
Secara garus besar, prosedur siklus dilakukan melalui kegiatan perencanaan (plan), siklus (act), observasi (observe) dan refleksi (reflect).
Adapun prosedur pengembangan model siklus yang dilaksanakan dalam
penelitian ini dapat dilihat pada Bagan 1 di bawah ini :
Bagan 1. Prosedur Pengembangan Model Siklus (Kemmis dalam Hopkin, 1993, dikutip Sukidin, 2002).
Prosedur penelitian tersebut dilaksanakan dalam lima tahapan yaitu :
- Rencana tindakan pembinaan, yaitu merumuskan rencana pembinaan setiap kali akan melaksanakan pembinaan serta fokus yang akan diamati selama pelaksanaan pembinaan
- Penilaian terhadap keterampilan guru dalam membuat materi pelajaran dalam bentuk power point
- Observasi pembinaan guru, adalah proses mendokumentasikan pengaruh, kendala, tindakan pembinaan, serta persoalan yang mungkin ada, pada saat pembinaan berlangsung. Observasi dibantu oleh observer (Rekan pengawas sekolah) sehingga observasi akan menjadi efektif dan efisien, observer mengobservasi peneliti dan guru selama pelaksanaan pembinaan, penelitipun mengamati proses serta kegiatan yang dilaksanakan oleh guru, serta mencatat kendala-kendala yang dihadapi guru. Hasil observasi itu mendasari refleksi untuk siklus yang telah dilakukan dan dijadikan pertimbangan untuk menyusun rencana siklus selajutnya
- Refleksi, yaitu menjelaskan setiap efek-efeknya dan kegagalan pelaksanaan. Rekomendasi ini hasil kolaborasi antara guru, peneliti dan observer serta dengan kepala sekolah, untuk mendiskusikan kelebihan dan kekurangan serta pengaruhnya dalam kegiatan pembinaan pada setiap siklus selama penelitian dilaksanakan Diskusi balikan, dilakukan antara guru, peneliti, observer serta dengan kepala sekolah, terhadap hasil observasi. Hasil diskusi balikan merupakan refleksi dari hasil observasi yang kemudian di interpretasi dan dijadikan rencana untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus yang telah dilaksanakan, untuk diterapkan pada siklus selanjutnya
- Subjek Penelitian
Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah guru-guru di tiga sekolah binaan yaitu SMK PASUNDAN 1 BANJARAN, SMK AL-JIHAD PANGALENGAN DAN SMK NEGERI 1 ARJASARI KAB. BANDUNG Total jumlah guru dari ke tiga sekolah binaan tersebut adalah 60 guru. Penelitian dilaksanakan sekaligus bergabung terhadap ke 60 guru tersebut, di SMK Aloer Wargakusumah Majalaya Kabupaten Bandung dari tanggal 8 Januari – 11 Febuari 2020
- Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diharapkan, maka dalam penelitian ini digunakan instrumen sebagai berikut: (1) rencana pelaksanaan pembinaan; (2) pedoman observasi aktivitas guru; (3) daftar chek aktivitas guru; (4) Instrumen evaluasi guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran; (5) format observasi pembinaan; (6) format diskusi balikan; dan (7) Daftar hadir guru
- Teknik Nalisis Data
Data yang telah diperoleh pada setiap tahapan siklus diolah dan dinalisis melalui tahap-tahap sebagai berikut
- Kategori Data
Kategori Data dalam penelitian ini adalah : tingkat penguasaan dan keterampilan guru dalam menggunakan informasi dan tekonologi (internet) dalam melaksanakan pembelajaran
- Interpretasi Data
- Indikator keberhasilan penelitian siklus ini adalah ketuntasan pembinaan dan daya serap guru. Pembinaan telah tuntas bila telah tercapai 85 % guru mencapai daya serap ≥ 70 % (Depdikbud RI, 1994 dalam Sudjana, 2001). Untuk menghitung persentase diatas dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
DSK = (∑guru yang memperoleh tingkat penguasaan ≥ 70%) X 100 %
Jumlah guru
- Validitas data
Agar data yang diperoleh sahih dan andal, maka dilakukan teknik triangulasi, yaitu dengan melakukan beberapa siklus antara lain:
- Melakukan pengecekan ulang dari data yang telah terkumpul untuk kelengkapannya.
- Melakukan pengolahan dan analisis ulang dari data yang terkumpul.
- Membuat perangkat test
- Pembuatan lembar observasi untuk guru dan instrumen lainnya.
4) Pelaksanaan Siklus
- Menerapkan pembinaan
- Mengobservasi aktifitas guru dan peneliti selama pembinaan belangsung
- Melaksanakan refleksi terhadap guru dan peneliti selama pembinaan
- Bersama observer (Rekan pengawas sekolah) memberikan rekomendasi dari hasil pembinaan setiap siklus
5) Evaluasi
- Observasi keaktifan guru dan peneliti selama pembinaan
- Observasi pelaksanaan pembinaan
- Diskusi balikan antara guru dengan peneliti, observer dan kepala sekolah setiap menyelesaikan proses pembinaan
6) Analisis dan Refleksi
Langkah-langkah dalam refleksi siklus terdiri atas :
- Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang sudah dan belum terpecahkan serta yang muncul selama siklus berlangsung.
- Menganalisis dan merinci pembinaan yang telah dilakukan dan efektifitas pembinaan berdasarkan kendala-kendala yang dihadapi peneliti dan guru.
- Menentukan siklus selanjutnya berdarkan hasil analisis refleksi yang dilakukan secara kolaborasi atara guru, peneliti, observer serta kepala sekolah
- Jadwal Penelitian
1). Tempat Penelitian
Lokasi penelitian akan dilaksanakan di SMK
2). Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebagai berikut :
| KEGIATAN | WAKTU |
| Tahapan Persiapan Penelitian | |
| Penyusunan dan pengajuan judul | |
| Pengajuan Proposal | |
| Tahapan Pelaksaan | 8 Januari – 11 Febuari 2020 |
| Pengumpulan Data | |
| Penyusunan Laporan |